بسم الله الرحمن الرحيم

Assalammualaikum & Selamat Sejahtera..Sihat Hari Demi Hari! Cantik! Lawa! Tampil Menawan! Tampil Berkeyakinan! Ceria! Bahagia! Bijak!..Memvariasikan, Khusus Untuk Pengunjung Yang Berkunjung Ke Jelita Wif Diyana,Tidak Kira Usia! Atau Jantina! Menampilkan Pelbagai Info, Juga Perkongsian Lain, Asalkan Menarik & Berilmu Untuk Dikongsikan Bersama Pengunjung..Membuat Jualan Online Tidak Menjual Banyak Produk, Ana Menjual Produk Yang Ana Amalkan, Guna, Pakai, Serta Tahu Akan Keberkesanan Produk Dalam Produk Jualan Ana. InsyaAllah Dengan Pengalaman Yang Ada, Ana Akan Kongsikan Kepada Pelanggan. Untuk Pertanyaan & Pembelian..WhatsApp/WeChat/Telegram 019.7007.507 (jelitawifdiyana) atau Isikan Borang Pesanan...ig: jelitawifdiyana ... www.jelitawifdiyana.my ... email: jelitawifdiyana@yahoo.com

SUKA BLOG ANA? ❤✿‿✿❤

Friday, May 18, 2012

UMUM ISLAM : MENUNTUT ILMU DLM PANDANGAN ISLAM


Menuntut Ilmu dalam Pandangan Islam

Tidak ada agama selain Islam, tidak ada kitab suci selain Al-Quran, tidak ada nabi selain Nabi Muhammad saw yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya, memuji orang-orang yang menguasainya, dan memuliakan orang yang mengamalkannya. Itulah mengapa, menuntut ilmu dalam pandangan Islam wajib hukumnya.

Tidak akan diterima ibadah seorang hamba apabila ia melakukannya tanpa dasar ilmu. Dengan demikian, ilmu menjadi faktor yang menentukan kualitas suatu amal, sekaligus penentu diterima tidaknya amal yang bersangkutan.

Terkait hal ini, Rasulullah saw pernah ditanya tentang dua orang, yaitu seorang ahli ibadah dan seorang ahli ilmu. Beliau bersabda, “Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya Allah, para malaikat, para penduduk langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya, dan para ikan mendoakan pengajar kebaikan pada manusia’.” (HR At-Tirmidzi).

Dalam redaksi lain, Al-Bazzar meriwayatkan dari Aisyah, “Sesungguhnya, para pengajar kebaikan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu, sampai oleh ikan-ikan di lautan.”

Ibadah ritual merupakan sebuah amal yang istimewa, namun lebih istimewa ilmu dan orang-orang yang memilikinya. Dalam hadits di atas, Rasulullah saw lebih mengutamakan keutamaan ahli ilmu daripada ahli ibadah bagaikan keutamaan diri beliau dengan orang yang paling rendah di antara para sahabat.

Perumpamaan ini serupa dengan ungkapan "bedanya bagaikan langit dan bumi”. Artinya, antara kedua keduanya memiliki derajat yang jauh berbeda.

Ada banyak hadits yang menguatkan hal ini, antara lain, “Dua rakaat shalatnya seorang yang berilmu lebih baik daripada seribu rakaat shalatnya orang bodoh”. Hadits lain menyebutkan pula bahwa tidurnya seorang berilmu itu lebih bernilai daripada shalatnya orang jahil. Apa artinya? Ilmu merupakan panduan manusia agar dapat melakukan suatu amal sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, baik prosedur yang bersifat fisik maupun non fisik; baik yang bersifat fikih maupun akhlak.

Dengan ilmu, seseorang dapat lurus niatnya, benar menjalankannya, dan optimal manfaat dari amal ibadah yang dilakukannya. Nah, hal-hal semacam ini sulit untuk dilakukan oleh orang-orang yang jahil alias tidak berilmu.

Keutamaan seorang cendikia akan semakin berlipat apabila ia mau mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Allah Azza wa Jalla mengutus Rasulullah saw ke dunia, salah satunya adalah untuk mengajari manusia tentang apa-apa yang tidak diketahuinya (QS Al-Jumu’ah, 62:2).

Dengan demikian, para pengajar ilmu dan kebaikan pada hakikatnya melanjutkan dakwah Rasulullah saw, yaitu mengajari orang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari yang sesat menjadi selamat, dari yang mengerti menjadi paham, dari yang lalai menjadi taat, dari yang menyimpang menjadi lurus.

Orang berilmu yang menyebarkan ilmunya dengan ikhlas dapat diibaratkan sebagai pembawa cahaya terang di kegelapan malam. Walaupun gelap, ia mampu berjalan menuju ke tempat tujuan tanpa mengalami kesulitan.

Dengan cahaya yang dimiliki, ia pun bisa menerangi orang lain yang tersesat karena gelapnya malam. Maka wajar, apabila semua makhluk di langit dan di bumi memintakan ampunan baginya.

Ada satu kisah tentang keutamaan bagi para pengajar dan yang mempelajari ilmu. Rasulullah saw pernah masuk ke dalam sebuah majelis. Di dalam majelis tersebut beliau melihat dua kelompok jamaah. Kelompok pertama sedang khusyuk berzikir dan kelompok kedua tengah serius mengkaji ilmu.

Rasulullah saw berkomentar, “Kelompok pertama adalah kelompok yang baik. Semoga Allah mengampuni mereka. Sedangkan kelompok kedua yang sedang mengajar dan mempelajari ilmu, semoga Allah membimbing mereka ke jalan yang lurus.”  

Semangat untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kembali merupakan hal yang sangat pantas pada masa sekarang. Hal ini tidak saja untuk mengejar predikat sebagai orang yang dimuliakan Allah dan segenap makhluk-Nya, tetapi juga untuk mengejar ketertinggalan dari kaum yang lain. Dalam konteks pribadi maupun umat Islam, kita tidak akan bisa bangkit hanya dengan zikir atau ibadah ritual saja. Kita hanya bisa bangkit apabila memiliki ilmu yang disinergikan dengan kekuatan ibadah.by:anneahira.com

No comments:

Post a Comment

Share

If you want to be strong know your weaknesses..

“Buatlah suatu kebaikan yang terus hidup...

Walaupun setelah kita mati“

SILA ISI BORANG TEMPAHAN ANDA DI SINI UNTUK MEMUDAHKAN URUSAN

Name:
Full Address:
Contact No:
Item To Order:
Question:

Get your own free form like this one.

.

.